<> SELAMAT DATANG DI KAMPOENG "MINAPOLITAN" GONDOSULI <> Contact Email : kampoenglele@gmail.com <>

Minggu, 02 September 2012

ORKES DANGDUT TURUT MEMERIAHKAN MALAM PERINGATAN HUT RI KE- 67

Panitia Peringatan HUT RI ke-67
(Foto selengkapnya ada dibawah posting ini)
Dengan seijin Allah SWT, pada Sabtu, 01 September 2012 tepat pukul 19.00 WIB digelar malam Peringatan Hari Ulang Tahun Republik Indonesia yang telah mencapai ke-67 tahun. Acara tersebut diprakarsai oleh Panitia Kegiatan yang berasal dari pemuda warga Desa "Kampoeng Lele" Gondosuli, Gondang, Kabupaten Tulungagung beserta warga sekitar, terutama pemuda RW. 02 RT. 02 - Dusun Krajan. Dan untuk menyemarakkan suasana peringatan pada malam itu, pengunjung diberikan suguhan alunan musik dangdut OM. AROMA MUSTIKA dari Pojok, Campurdarat.
Selain melakukan peringatan HUT RI, masih dalam nuansa Bulan Syawal yang penuh dengan maghfirah maka sekaligus digelar acara Halal Bi Halal lingkungan dengan menyajikan menu kopi gratis dan makanan ala kadarnya kepada seluruh pengunjung maupun warga yang hadir pada malam hari itu. Muhammad Huda (RT), sebagai Ketua Panitia Acara dalam sambutannya mengatakan bahwa "Halal Bi Halal semacam itu bertujuan untuk menjaga tali silaturahmi dan Ukhuwah Islamiyah diantara kaum muslim di Desa Gondosuli pada khususnya, maka insyaallah kegiatan semacam itu akan terus kami uri - uri agar lestari".
Berkaitan dengan peringatan HUT RI, pasti tidak akan terlepas dari kata “Kemerdekaan”. Kemerdekaan mempunyai makna kebebasan. Bebas dari penjajahan, bebas dari belenggu bangsa asing, bebas dari intimidasi dari pihak manapun, bebas dari jeratan ekonomi global yang semakin menjerat, bebas untuk menyampaikan pendapat maupun kritik untuk pembangunan, bebas dari kesenjangan antara si kaya dan si miskin dan masih banyak contoh yang lainnya.
Sesungguhnya kemerdekaan merupakan buah karya seluruh Bangsa Indonesia dan para tokoh pejuang kemerdekaan kala itu. Sehingga harus kita akui bahwa kemerdekaan merupakan warisan yang harus dirawat dan dijaga keutuhannya. Asal muasal kemerdekaan diawali pada 67 tahun silam, yaitu tepatnya pada 17 Agustus 1945. Bangsa Indonesia telah berhak untuk menentukan masa depannya sendiri dan menjadi bangsa berkedulatan rakyat yang berdasarkan kepada : Ketuhanan Yang Maha Esa, Kemanusian Yang Adil Dan Berdab, Persatuan Indonesia, Kerakyatan Yang Dipimpin Oleh Hikmat Kebijaksanaan Dalam Permusyawaratan Perwakilan dan Keadilan Sosial Bagi Seluruh Rakyat Indonesia (sesuai dengan kelima sila Pancasila).
Oleh karena kemerdekaan ini adalah warisan para pendahulu kita, maka sebagai generasi muda penerus bangsa, sudah barang tentu kita harus mengisi kemerdekaan ini dengan hal - hal yang bermanfaat, hal - hal yang positif dan tidak meninggalkan semangat perjuangan menuju kepada Persatuan dan Kesatuan Bangsa Indonesia. Seperti acara / kegiatan pada malam Peringatan HUT RI ke-67 yang diselenggarakan oleh warga Desa Gondosuli adalah untuk mengenang jasa para pahlawan yang telah mendarmabaktikan seluruh jiwa raganya demi kemerdekaan. Sehingga harapannya adalah dapat meneladani tingkah polah para pahlawan agar dapat diaplikasikan dalam kehidupan sehari - hari dalam mengisi kemerdekaan bangsa ini. (Why/Admin)


Download foto dokumentasi Peringatan HUT RI ke-67, dibawah ini :


Atau klik gambar berikut untuk versi mobile (Handphone)
Photobucket Photobucket Photobucket Photobucket Photobucket Photobucket Photobucket Photobucket Photobucket Photobucket Photobucket Photobucket Photobucket Photobucket Photobucket Photobucket Photobucket Photobucket Photobucket Photobucket Photobucket Photobucket Photobucket Photobucket Photobucket Photobucket Photobucket Photobucket Photobucket Photobucket Photobucket Photobucket Photobucket Photobucket Photobucket Photobucket Photobucket Photobucket Photobucket Photobucket Photobucket Photobucket Photobucket Photobucket Photobucket Photobucket
Dok. 2012/kampoengikan.blogsot.com

Kamis, 30 Agustus 2012

HALAL BI HALAL SEBAGAI WUJUD CINTA KASIH DAN PERSATUAN BANGSA

Halal Bi Halal secara harfiah berarti kembali kepada kesucian. Suci dari kebencian, ketidakjujuran, kesombongan, dan segala hal yang negatif antara individu dengan individu yang lain. Halal Bi Halal bermakna kembalinya si manusia menjadi bayi yang baru dilahirkan dan dapat pula diibaratkan sebagai kertas putih yang belum terisi noktah - noktah.
Dan dalam realitasnya, perjalanan hidup manusia senantiasa tidak bisa luput dari alpa dan dosa. Oleh karena itu, perlu upaya mengembalikan kembali (merekondisi) pada kondisi sebagaimana asalnya. Itulah makna Idul Fitri sesungguhnya. Dosa yang paling sering dilakukan manusia adalah kesalahan terhadap sesamanya, dengan tetangga sekitar, orang lain, saudara, anak - anak kita, dan bahkan dengan orang tua sekalipun. Manusia dapat memiliki sifat negatif, seperti : rasa permusuhan, iri, dengki, acuh tak acuh, pertikaian, dan saling menyakiti. Idul Fitri merupakan momen penting untuk saling memaafkan dan mengasihi, baik secara individu maupun kelompok.
Budaya saling memaafkan ini lebih populer disebut halal-bihalal. Fenomena ini adalah fenomena yang unik terjadi di Tanah Air, dan telah menjadi tradisi di negara-negara beragama mayoritas Islam, seperti Indonesia. Ini adalah refleksi ajaran Islam yang menekankan sikap persaudaraan, persatuan, dan saling memberi kasih sayang serta cinta kasih.
Dalam pengertian yang lebih luas, halal-bihalal adalah acara maaf-memaafkan pada hari Lebaran. Keberadaan Lebaran adalah suatu pesta kemenangan umat Islam yang selama bulan Ramadhan telah berhasil melawan berbagai jenis hawa nafsu. Dalam konteks sempit, pesta kemenangan Lebaran ini diperuntukkan bagi umat Islam yang telah berpuasa, dan mereka yang dengan dilandasi iman. (Why/Admin)

Selasa, 28 Agustus 2012

ALAT DAN TEKNIK PEMANENAN

Photobucket
Secara umum, masa pemanenan kurang lebih antara 2 - 3 bulan atau tergantung dengan  permintaan pasar. Pemanenan dapat dilakukan pada pagi atau sore hari. Wadah dan alat pemanenan menggunakan seser (warga lokal gondosuli menyebut dengan “serok”) untuk menangkap ikan atau jaring, tong, keranjang, alat timbang dan alat - alat pendukung lainnya.
Berdasarkan tujuannya, sistem pemanenan ada dua macam, yaitu : Panen sebagian dan panen total.

a. Panen Sebagian
Photobucket
Panen sebagian, yaitu pemanenan yang hanya memilih ikan lele ukuran tertentu sedangkan yang masih dibawah ukuran dikembalikan ke kolam untuk dibesarkan lagi.
Panen sebagian biasanya menggunakan alat tangkap berupa jaring insang (gill-net) atau ukuran jaring disesuaikan dengan ukuran ikan lele yang dipanen. Untuk pemanenan sebagian kolam tidak perlu dikuras, sehingga ketinggian air tetap seperti semula. Jaring tersebut direntangkan ke sisi kolam, kemudian ditarik dari satu sisi ke sisi yang lain dengan cara menggiring ikan secara pelan - pelan diarahkan ke salah satu tepi kolam, kedua ujung jaring didekatkan sehingga kedua ujungnya menyatu kemudian diangkat dan lele akan mengumpul ditengah jaring. Setelah jaring diangkat, lele ditangkap menggunakan seser (serok) lalu dimasukan ke dalam keranjang untuk dilakukan penimbangan. Dengan cara ini jumlah lele yang dipanen disesuaikan dengan kebutuhan. Selanjutnya penangkapan dilakukan sampai berulang - ulang sampai jumlah dan ukuran yang diinginkan. Ikan lele yang tidak lolos seleksi (sortiran) dimasukan pada kolam tersendiri atau kolam yang seukuran dengan ikan sortiran tersebut.

b. Panen Total
Photobucket
Panen total yaitu pemanenan yang dilakukan terhadap seluruh ikan lele tanpa klasifikasi ukuran tertentu. Sistem panen ini dilakukan bila ukuran lele sudah seragam dan sesuai dengan yang diharapkan.
Selain pemanenan secara sebagian, sistem panen total juga biasa dilakukan pada Kelompok Masyarakat Pembudidaya Ikan “Mekar Sari”. Pemanenan total dilakukan dengan cara air kolam disurutkan lebih dahulu. Sambil disurutkan, lele sudah bisa mulai ditangkap. Jika air masih banyak bisa dengan cara dijaring, yaitu cara yang sama dengan sistem panen sebagian. Jika air sudah surut atau tinggal sedikit, penangkapan lele sebaiknya menggunakan seser (serok) dan sebaiknya menggunakan serok yang halus agar lele tidak terluka.